'Krisis Genom' Jadi Awal Kepunahan Mammoth Berbulu


Rabu, 08 Maret 2017
Label: , ,

[Sains Box] Analisis DNA milik mammoth telah mengungkapkan bahwa spesies ini didera oleh penyakit genetik. Pemimpin studi Dr Ribka Rogers dari University of California, Berkeley menyatakan bahwa sebelum mereka punah, Mammoth berbulu sempat mengalami masa "krisis genom" yang telah mengakibatkan mereka kehilangan indera penciuman, dijauhi dari kawanan mereka, memiliki mantel mengkilap yang aneh, serta kelainan zat-zat dalam urin yang terlibat dalam status sosial dan menarik pasangan.

Hal ini berdasarkan analisis dari sampel DNA milik raksasa mammoth yang hidup sekitar 4.000 tahun yang lalu, saat spesies ini telah hampir lenyap, dengan jumlah populasi yang masih bertahan di pulau terpencil.

Krisis Genom Menjadi Awal Kepunahan Mammoth Berbulu

Baca Juga:

Untuk mengkonfirmasi temuan ini, para peneliti juga menganalisis DNA mammoth dari 45.000 tahun yang lalu yang tidak menunjukkan tanda-tanda yang sama dari penyakit genetik dan memiliki populasi yang besar, cara ini dilakukan sebagai perbandingan.

"Mammoth mati karena 'krisis mutasi'," ungkap Dr Ribka Rogers. Ia juga mengatakan bahwa genom mammoth menjadi 'berantakan' sebelum pada akhirnya mereka punah.

Ini, katanya, adalah kasus pertama dari "krisis genom" dalam satu spesies.

"Anda memiliki perlindungan terakhir terhadap mammoth ini setelah semuanya telah punah di daratan," tambahnya. "Teori-teori matematika yang telah dikembangkan mengatakan bahwa mereka harus menumpuk mutasi yang buruk karena seleksi alam sehingga menjadi sangat tidak efisien."

Penemuan ini mengkhawatirkan, karena isu-isu serupa juga bisa mengganggu beberapa spesies yang terancam punah hari ini.

Pengetahuan tentang hari-hari terakhir mammoth bisa membantu spesies modern di ambang kepunahan, seperti panda, gorila gunung dan gajah India. Pelajaran dari mammoth berbulu adalah bahwa setelah jumlah angka turun di bawah tingkat tertentu, kesehatan genetik populasi mungkin menjadi penyelamat. Pengujian genetik bisa menjadi salah satu cara untuk menilai apakah tingkat keanekaragaman genetik dalam spesies cukup untuk memberikan kesempatan mereka bertahan hidup. Sebuah pilihan yang lebih baik adalah untuk menghentikan jumlah angka populasi jatuh terlalu rendah.

Ada kurang dari 100 cheetah Asiatic yang tersisa di alam liar, sedangkan populasi gorila gunung yang tersisa diperkirakan sekitar 300. Angka-angka tersebut sama dengan jumlah dari mammoth terakhir yang tinggal di Pulau Wrangel di Samudra Arktik sekitar 4.000 tahun yang lalu.

Krisis Genom Menjadi Awal Kepunahan Mammoth Berbulu

"Bila Anda memiliki populasi yang kecil untuk jangka waktu tertentu, mereka dapat masuk ke krisis genom, seperti apa yang kita lihat di mammoth," kata Dr Rogers.

"Jadi, jika Anda ingin dapat mencegah satu organisme terancam atau hampir punah maka yang akan Anda lakukan lebih banyak adalah membantu mencegahnya mengalami krisis genom dibandingkan dengan jika Anda hanya berusaha untuk mengembalikan angkanya saja, sebab mereka masih bisa menanggung krisis genom ini."

"Kami menemukan mutasi buruk yang terakumulasi di genom mammoth tepat sebelum mereka punah."

*******
Thanks
Sains Box
Sains Box

(bbc)

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Advertisement

2 komentar: