Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser


Kamis, 04 September 2014
Label:

[Sains Box] Pada tahun 1870, seorang penjelajah asal Swedia yang bernama Nils AE Nordenskiöld menemukan lubang-lubang aneh yang muncul di atas salju. Lubang-lubang itu untuk pertama kalinya ia temukan ketika ia sedang berwisata ke gunung es Greenland. Tepat di atas permukaan gletser itulah lubang-lubang aneh terlihat bergerombol dengan berbagai macam ukuran. Bahkan kedalaman dan lebar diameter lubang-lubang itu pun bervariasi, ada yang memiliki diameter berkisar 5 sampai 145 cm, serta kedalaman mulai dari 4 sampai 56 cm. Anehnya, ditemukan juga lubang yang terbesar dengan ukuran diameter sampai 30 meter dan kedalaman mencapai 5 meter. Di bagian bawah lubang tersebut biasanya terdapat sedimen yang berwarna gelap, Sementara di bagian atasnya terisi oleh air yang meleleh. Lalu lubang apakah itu sebenarnya, siapa yang membuat lubang-lubang itu?

Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser

Hasil Analisa

Setelah melalui penelitian oleh para ilmuwan, ada sebuah pendapat yang akhirnya mengungkap misteri lubang-lubang aneh tersebut. Menurut para peneliti, lubang-lubang itu tercipta karena adanya debu yang jatuh di atas permukaan salju. Debu yang kemungkinan berasal dari gurun atau benua yang jauh, atau lahan pertanian, bisa juga berasal dari partikel letusan gunung berapi ataupun emisi pembangkit listrik dan jelaga yang terbang terbawa angin lalu jatuh di atas permukaan salju. Kemudian partikel debu tersebut menyerap sinar matahari sehingga menyebabkan es yang berada di bawahnya mencair, lalu membentuk lubang silinder yang panjang. Lapisan hitam yang berada di bagian bawah lubang itulah yang dimaksudkan dengan debu tersebut. Sedangkan bagian atasnya akan terisi oleh lelehan es yang mencair. Dari sinilah kemudian lubang tersebut diberi nama “Cryoconite”, yang berasal dari kata “cryo” artinya es, dan “conite” artinya debu.

Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser

Debu Cryoconite biasanya terdiri dari kombinasi antara partikel batu kecil, jelaga dan mikroba. Selama musim panas, lubang cryoconite ini sering terisi oleh air. Sehingga memungkinkan adanya lingkungan yang baik bagi mikroorganisme yang bisa beradaptasi dengan dingin, misalnya bakteri, alga, atau bahkan serangga yang memanfaatkan air dalam lubang itu untuk berkembang biak. Energi yang dihasilkan oleh organisme ini lebih lanjut memberikan kontribusi pada pertumbuhan lubang. Sehingga menjadikan lubang cryoconite sebagai sebuah ekosistem tertentu dengan batas-batas yang berbeda, aliran energi, dan siklus nutrisi.

Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser

Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser

Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser

Cryoconite, Lubang Aneh di Permukaan Gletser

Sedangkan di musim dingin, pada bagian permukaan dari lubang akan tercipta sebuah tutup es, dengan menyisakan sedikit air dibagian dalamnya, sehingga manakala tutup es tersebut mencair kembali pada musim panas, koloni yang berada di dalamnya akan tetap tumbuh meski bertahun-tahun lamanya. Dan ketika gletser ini mulai mencair, maka lubang-lubang cryoconite pun ikut mencair pula serta menghilang. Hal ini menyebabkan komunitas mikroba yang ada di dalamnya terlepas bebas untuk menjelajah tanah yang baru untuk melangsungkan kehidupan mereka.

Lubang cryoconite umumnya terdapat di zona ablasi gletser di seluruh dunia, termasuk wilayah Arktik, dan Antartika. Serta area gletser yang beriklim pertengahan garis lintang. Juga bisa ditemukan pada laut es dan danau es.





sign


loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Advertisement

6 komentar:

  1. jd karena debu ya, berarti kalo lubangnya besar, debunya juga besar dong, atau batu mungkin ya

    BalasHapus
  2. @Obat: sepertinya begitu mbak..

    BalasHapus
  3. dari penjelasannya sih masuk akal juga

    BalasHapus
  4. itu bisa berbahaya gak mas bagi para penjelajah es.. kalo keinjak kan bs jeblos itu

    BalasHapus
  5. dilihat gitu kok rasanya ngeri juga ya? tapi debunya itu debu apa ya kok bisa menyerap matahari, di penjelasannya kok cuma 'kemungkinan'? berarti hasil analisanya belum fix?

    BalasHapus
  6. sepertinya masih ada kemungkinan lain ya boss, seperti mikroba alien jutaan tahun yg "terbangun" kembali...
    nice article boss

    BalasHapus