Lingkaran Peri Misterius di Namibia, Afrika


Kamis, 26 Juni 2014
Label: ,

[Sains Box] Pada tahun 1971, untuk pertama kalinya lingkaran-lingkaran misterius yang terdapat di padang rumput Afrika Selatan ini ditemukan dan dilaporkan. Sejak saat itulah para ilmuwan pun mulai menelitinya. Ada sekitar ribuan jumlah lingkaran tersebut muncul secara acak di sela-sela padang rumput yang membentang sekitar 2.400 km dari Angola ke selatan. Lingkaran yang dikenal dengan sebutan “Lingkaran Peri” ini muncul di antara vegetasi rumput dengan memiliki ukuran diameter lingkaran berkisar antara 2 meter sampai 15 meter. Anehnya, tidak ada yang tahu apa penyebab dari kemunculan lingkaran peri tersebut.

Lingkaran Peri

Lingkaran Peri

Lingkaran Peri

Meskipun para peneliti sudah melakukan penelitian sejak ditemukannya hingga kini masih belum dipastikan apa penyebabnya. Menurut warga Himba setempat, lingkaran itu disebabkan oleh naga yang hidup di bawah kerak bumi, sehingga saat ia mengeluarkan napas apinya, napasnya itu akan menggelembung ke permukaan dan mengakibatkan terbakarnya vegetasi rumput lalu membentuk lingkaran yang sempurna. Cukup aneh.

Ada lagi pendapat lain yang mengatakan, fenomena lingkaran peri itu bisa juga disebabkan oleh ulah para binatang semut, rayap, atau disebabkan oleh tanah radioaktif sehingga tidak ada vegetasi yang bisa tumbuh dalam lingkaran itu, atau ada juga pendapat yang mengatakan lingkaran itu disebabkan karena racun yang dikeluarkan oleh tanaman endemik beracun seperti tanaman Euphorbia Damara. Sayangnya semua pendapat-pendapat itu masih belum bisa dibenarkan secara jelas.

Lingkaran Peri

Lingkaran Peri

Lingkaran Peri

Seorang profesor biologi asal Jerman dari Universitas Hamburg bernama Norbert Juergens, mengungkapkan hasil penelitian barunya yang lebih masuk akal. Ia mengatakan bahwa fenomena ini terjadi disebabkan oleh hasil rekayasa ekologi canggih rayap pasir yang bernama Psammotermes allocerus. Rayap jenis ini ditemukan hampir 80% dari lingkaran-lingkaran itu, dan 100% ditemukan pada lingkaran yang baru terbentuk. Menurutnya, rayap ini satu-satunya serangga yang hidup disekitar fenomena tersebut. Rayap ini menciptakan lingkaran peri dengan mengkonsumsi vegetasi, dan menggali tanah untuk membuat cincin. Penyebab lingkaran menjadi tandus dikarenakan air meresap ke bawah melalui tanah berpasir dan menumpuk di bawah tanah, sehingga tanah tetap lembab meskipun kondisinya kering. Lalu rumput tumbuh di bagian tepi lingkaran karena adanya air bawah tanah yang tersimpan itu, kemudian rayap secara perlahan menyebabkan ukuran lingkaran yang semakin meluas. Perilaku rayap ini mirip dengan perilaku berang-berang pada umumnya, yang mengolah sumber makanan serta minuman bagi diri mereka sendiri.

Pendapat profesor Norbert Juergens ini ditentang oleh Walter R. Tschinkel, seorang ahli biologi asal Universitas Florida yang juga melakukan penelitian terhadap lingkaran peri tersebut. Menurut Walter, pendapat prof Juergens itu adalah salah. Katanya, “Juergens telah membuat kesalahan ilmiah umum korelasi membingungkan (bahkan korelasi yang sangat kuat) dengan sebab-akibat." Sebelumnya, Walter telah berusaha mencari keberadaan rayap pasir pemanen itu, namun tidak menemukannya.

Mendapat penyangkalan dari Dr Walter, prof Juergens pun dengan segera menjawabnya, katanya, “Dr. Walter mencari rayap yang salah, rayap pasir jelas berbeda dari rayap pemanen dan hidup jauh dibawah lingkaran, ia tidak membuat gundukan atau sarang di atas tanah, juga bergerak dengan cara tidak meninggalkan jejak di pasir.”

Lingkaran Peri

Lingkaran Peri

Lingkaran Peri

Perdebatan pun berlangsung cukup lama, namun belum juga ditemukan kepastian mana yang benar dan mana yang salah. Yang jelas, bagi orang-orang Himba, tidak peduli dengan semua pendapat para peneliti itu, menurut mereka, tidak perlu dijelaskan oleh apapun lagi. Sebab, lingkaran-lingkaran itu bagi mereka adalah “jejak kaki para dewa”.

Lalu, apa penyebab sebenarnya? Apakah benar itu jejak kaki para dewa, hingga tidak ada satu tanaman pun yang mau menyentuhnya. Tetap masih misteri hingga sekarang...




sign


loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Advertisement

5 komentar:

  1. kalau saya lebih cenderung ke pendapat si prof juergens tadi om, atau pengen juga langsung ke TKP

    jaya terus om buat penghuni60

    BalasHapus
  2. @Thee-ee Bukang: sama sob, aku jg setuju dgn prof Juergens, sebab disekitar lingkaran itu membentuk cincin tanah seperti bekas galian dari rayap, tp karena blm liat langsung, jd msh ada ragu juga..

    BalasHapus
  3. jika memang ini ulah rayap, berarti rayap jenis lain ya mas, biasanya kan rayap itu membentuk gundukan tanah yg semakin tinggi bkn berdiam dlm tanah, kecuali semut, justru yg membingungkan disini, adalah knp tdk ada tanaman yg tumbuh dlm lingkaran? itu saja

    BalasHapus
  4. dua peneliti di atas tetap berpegang teguh dengan hasil penelitiannya, mana yang benar ya? who knows, tak ada yang tahu karena bisa saja itu cuma fenomena alam. Good post. :)

    BalasHapus