Warga Desa di India ini Memiliki Nama-nama Aneh


Selasa, 01 Maret 2016
Label:

[Sains Box] Pemberian nama bagi sebagian besar orang adalah selain sebagai identitas, melainkan juga sebagai doa, yang konon katanya akan dapat mewakili nasib serta kepribadian si pemilik nama tersebut. Akan tetapi hal ini mungkin tidak berlaku bagi penduduk salah satu desa di India. Sebab, di desa tersebut ada sebuah ritual pemberian nama yang aneh, misalnya saja ada orang yang diberi nama 'Google' dan 'Coffee'. Aneh bukan?

Sebuah desa yang terdapat di wilayah Karnataka, India, adalah rumah bagi masyarakat suku Hakki Pikki yang telah memberikan nama anak-anak mereka dengan nama-nama benda acak, nama bilangan, bahkan meniru nama-nama tempat. Mengapa demikian?

Warga Desa di India ini Memiliki Nama-nama Aneh

Baca Juga:

Memang tidak dapat disangkal, karena nama yang mereka miliki itu maka alhasil nama mereka membuat bingung orang-orang yang mendengarnya. Contoh nama mereka yang membingungkan yaitu Military, Glucose, English, Congress, bahkan High Court. Nama-nama aneh lainnya termasuk One By Two, British, serta Supreme Court. Malah ada juga warga desa yang diberi nama dari nama negara-negara seperti Japan dan America.

Meskipun unik, sudah pasti ini sangat membingungkan.

Menurut KM Metri dari departemen studi suku di Hampi University, awalnya suku ini tinggal di hutan dan menggunakan hal-hal alami yang ada di sekitar mereka untuk nama anak-anak mereka.

Warga Desa di India ini Memiliki Nama-nama Aneh

"Setelah gejolak politik dan perubahan rezim, mereka akhirnya harus tersebar di berbagai daerah di India Selatan," katanya. "Pada abad ke-20, asosiasi kejahatan membuat suku ini ingin menyembunyikan identitas mereka. Mereka mulai memberikan nama anak-anak mereka dengan nama-nama yang aneh seperti Pistol, English, dan lain-lain".

Warga Desa di India ini Memiliki Nama-nama Aneh

"Mereka juga berbicara bahasa yang unik, yang tidak memiliki script. Jadi anak-anak mereka tidak memiliki pendidikan yang terkait dengan budaya mereka. Dan sistem pendidikan modern tidak memahami mereka. Ini adalah alasan mengapa kita melihat sebagian dari mereka akhirnya harus putus sekolah. Berbagai kisah, termasuk UU Kehutanan juga telah membatasi masuknya mereka kembali ke dalam hutan, sehingga mereka harus berjuang dan kehilangan praktek budaya mereka."

Ironis memang...

*******
Thanks
Sains Box
Sains Box

loading...

FOLLOW and JOIN to Get Update!

Advertisement

0 komentar:

Poskan Komentar